Rabu, 21 Mei 2008

Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia

Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia

negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.

Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7, yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi ekonominya (sekarang ke-11 terbesar). Pada hemat saya, Indonesia juga bisa, karena negara ini punya kemampuan.

Ciri utama yang mewarnai negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan, ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu menghilangkan dua sifat buruk itu, maka dialah yang akan dengan cepat dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.

Dalam teori pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua aliran pendapat itu secara prinsip sangat berbeda satu dengan yang lain. Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama, yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.

Adapun aliran yang lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya, karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.

Etos Korea

Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.

Kemajuan Korea ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan bangsa yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. Pertama, ”sikap rajin bekerja”. Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu, tinimbang pidato yang muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya.

Kedua, ”sikap hemat”, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, ”sikap self-help”, yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, kooperasi atau kerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.

Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia. ”Rajin pangkal pandai…” dan ”sedikit bicara banyak kerja” adalah pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.

Adapun nilai self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah. Sementara sifat yang terakhir, kooperasi, adalah sendi-sendi budaya Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap dipelihara dan dilestarikan.

Burung garuda

Sebagai penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.

”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu.

”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.

”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu.

Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.

”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!”

Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.

Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: ”Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membubunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.

Nah, barangkali cerita ini ada persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja bisa, apalagi Indonesia.

Oleh; Koh Young Hun Profesor di Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea

Selasa, 20 Mei 2008

Ir. H. Badaruddin Andi Picunang, MM.


Lahir di Belopa (Luwu Sulsel) 4 Maret 1970. Pendidikan dimulai di SDN Radda (Luwu) pindah ke SDN Sambung Jawa Makassar dan diselesaikan di SDN Padangpadang (Luwu). Lanjut ke SMPN Belopa, SMAN Wawondula (Nuha) dan selesai di SMAN Belopa. Semasa SMA aktif di OSIS & Pramuka, Ketua Umum Remaja Masjid Topoka Belopa (1988). Diterima di Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Hasanudin (1989). Dipercaya menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa ITK UNHAS 1991-1992, Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Kelautan Se-Indonesia (HIMITEKINDO) 1993-1995. Selain itu aktif di IMM, HMI, KNPI, ORBIT-ICMI, IPMIL dan dunia pers.
Beberapa juara karya tulis ilmiah tingkat regional dan nasional sempat diraihnya, diantaranya LKTI Hemat Energi 1994, LKTI Kepariwisataan 1991, dan LKTI Perikanan 1992. Dipercaya memimpin Lembaga Pers PP IPMIL sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah LA GALIGO 1993-1995, Ketua Umum IPMIL Koord. UNHAS (1994), Staf penyunting Surat Kabar kampus IDENTITAS UNHAS, Perwakilan Tabloid BISNIS MARITM di Makassar (KTI) 1995-1997.

Setelah menyelesaikan S1 tahun 1997 kemudian terjun ke dunia usaha dengan mendirikan beberapa perusahaan (tambang batubara, tours & travel, konsultan) dan LSM di bawah payung BENUA GROUP dengan posisi sebagai Chairman & CEO. Sekretaris Pokja Kelautan DPP Partai GOLKAR ini juga aktif sebagai Wakil Sekjen DPP Barisan Muda KOSGORO 1957, Pimpinan PP AMPG, DPP AMPI dan Pemuda Pancasila. Aktif di Kerukunan Keluarga Tanah Luwu Jakarta yang tetap menyuarakan dan memperjuangkan LUWU RAYA sebagai provinsi. Pernah Kuliah di Magister Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Magister Manajemen Universitas Pancasila (Jakarta) dan kini sedang mendalami Ilmu Administrasi Kebijakan Publik di Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di beberapa terbitan lokal dan nasional. Buku yang pernah disunting dan ditulis diantaranya: Tudang Ade Menelusuri Hari Jadi Luwu (1995), Pembangunan KTI & Kelautan (1996), Kepemimpinan BJ Habibie (1999), Pengembangan Produk Unggulan Wilayah (2000). beristrikan sesama aktivis di ORBIT-ICMI dan alumnus UNHAS, Salmawati Yusuf, S.Sos. yang juga sedang mendalami Ilmu Psikologi di UI kini dikaruniai anak: Abelibra (6 tahun) dan Amela (4 tahun). Puisi-puisinya pernah dibukukan dalam buku PUISI-PUISI DARI KAMPUS dan jiwa seninya dituangkan dalam album dangdut GUBUK BAMBU (2008). Lelaki yang berperawakan tinggi 172 cm dan berat 75 kg hobbu renang, tennis, menembak dan golf memiliki prinsip hidup BE THE BEST AND SHARING HAPINESS (berbuat yang Terbaik dan berbagi Kebahagiaan).